RENUNGAN TENTANG KELUARGA
BAGIAN 2



MENUJU KELUARGA BAHAGIA










Oleh : YP. Sukiyanto
(Sesepuh Paguyuban Kekadangan Liman Seto Pusat Blora)










Prakata Renungan 2
Dalam tulisan pertama (bagian awal) uraian renungan panjang terdahulu, saya memaparkan segenap seluk beluk keluarga kecil (batih), yang merupakan fondasi kehidupan bersama di masyarakat. Bagian kedua tulisan saya ini, saya arahkan pada perenungan tentang kehidupan manusia secara kelompok, entang suasana kehidupan bersama – berdampingan dan pengaruh  pengaruh yang membentuk nuansa kebersamaan di masyarakat.
Namun fokus kehidupan bersama ini saya arahkan pada masyarakat yang bersifat PAGUYUBAN (GEMEINSCAFT) di desa atau kota kecil.
Saya hanya berharap, sekelumit ulasan bodoh ini mampu sedikit meringankan beban keprihatinan saya mengamati masalah-masalah kehidupan pada masyarakat “bukan ilmuan”. Sayang sekali bahwa saya sendiri juga BUKAN ILMUAN! Jika boleh dibilang saya hanyalah seniman kecil, di daerah kecil, di kota kecil yang sedikit peduli pada nasib orang-orang kecil belaka. Namun tak mampu berbuat apa-apa, dan dalam tulisan saya ini pun tak bermaksud apa-apa. Hanya sekedar membuang waktu luang daripada hanya tertegun di ruang hampa.
Oleh karena itu karena kebodohan berbahasa, tentu saja akan ada pembaca-pembaca yang merasa teluka atau tergores perasaannya. Namun bukan tujuan saya untuk menebar duka atau sengaja menebar derita-jiwa para pembaca. Maka dari itu beribu maaf pastilah saya minta, sebab daripada menciptakan lawan lebih baik saya mencari saudara. Tuhan Beserta Kita.AMIN !

Blora, 18 Januari 2012
Syallom,
Penulis








RENUNGAN TENTANG KELUARGA
BAGIAN 2
MENUJU KELUARGA BAHAGIA

I.                    KERUKUNAN ANTAR KELUARGA
Keluarga sebagaimana terurai pada tulisan terdahulu (Renungan Tentang Keluarga), merupakan sekelompok manusia yang terjalin dalam satu ikatan NILAI dan NORMA yang berlaku di masyarakat.
Adapun keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak merupakan KELUARGA INTI ; yaitu bagian terkecil dari KEKERABATAN, yang disebut BATIH.
Dalam kehidupan di masyrakat, satu keluarga inti (batih) memiliki antar – hubungan terhadap kelompok batih yang lain, namun dalam proses interaksi, kedaulatan satu keluarga inti tetap terjaga, sehingga tak ada proses saling mengganggu atau bercampur tangan.
Namun kadangkala ada satu – dua keluarga yang memiliki hubungan khusus (persahabatan, permusuhan, saling membiarkan, dll). Hal ini berhubungan dengan sifat kepribadian dari kelompok keluarganya. Dan hal ini sering targantung dari sikap dan sifat kepala keluarganya. Adapun karena “kepatuhan” anggota keluarga kepada ketentuan kepala keluarga (walaupun tersamar, tidak nyata) menciptakan “sikap/sifat bersama” kelompok batih tersebut. Dan hal inilah yang terkadang membuat perbedaan dengan keluarga inti yang lain.
Kerukunan antar keluarga hanya terjadi apabila :
1.      Adanya sifat / sikap SALING PEDULI antar keluarga, terutama pada saat salah satu keluarga sedng mengalami masalah.
2.      Ada sifat / sikap SALING MENGENDALIKAN DIRI untuk tak mencampuri urusan keluarga lain (keculai di minta oleh keluarga yang bermasalah).
3.      Ada siat / sikap SALING MEMBIARKAN dan MEMAKLUMI “kekurangan” keluarga lain (menjaga HARGA DIRI tetangga).
4.      Ada sifat / sikap MEMEAAFKAN “kesalahan” tentangga.
5.      Mengembangkan sifat / sikap MENYENANGKAN orang lain.
6.      Mengadakan PWNYESUAIAN DIRI terhadap lingkungan.
7.      Mengembangkan sifat / sikap KEBERSAMAAN dalam berfikir dan bertindak.
8.      Mengembangkan sifat / sikap TAK MENGHAKIMI keluarga lain
9.      Mengambangkan sifat / sikap cepat, tanggap / peka, siap merespons sesuatu yang diperlukan secara bersama.
10.  Mengembangkan sikap RAMAH, MURAH SENYUM, BERSAUDARA terhadap anggota keluarga yang lain.

URAIAN :
1.      SIKAP SALING PEDULI
Sikap peduli berasal dari sifat mengamati, mencari tahu, mendengarkan berita; tentang keadaan dan situasi orang lain; dengan KESIAP – SEDIAAN untuk menegur – meyapa – membantu – menjaga – menolong sesama tetangga. Hal ini muncul dari kesadaran pengertian bahwa manusia  kelompok TAK PERNAH MAMPU BERDIRI SENDIRI; disebabkan adanya KELEMAHAN – KELEMAHAN (di samping sisi kelebihannya) manusia dalam pencapaian meraih KEBUTUHAN POKOKnya (sandang – pangan – papan / perumahan – kesehatan – keamanan dan libido seksualitas). Barangkali di antara keluarga yang satu dan keluarga yang lain kelemahannya berbeda-beda; sehingga perlu memperoleh bantuan dari keluarga yang lain. Maka sebagai konsekuensi menciptakan kerukunan antar tetangga perlulah kiranya ada sikap SALING MEMPEDULIKAN dan SALING MENGAMATI.
2.      SIKAP SALING MENGENDALIKAN DIRI
Sikap ini muncul dari kesadarn bahwa setiap keluarga memiliki KEDAULATAN, HARGA DIRI, NORMA / NILAI yang mungkin berbeda dengan keluarga yang lain. Sikap mencapuri urusan keluarga lain mungkin justru menumbulkan LUKA perasaan atau terusiknya harga diri, sehngga menimbulkan GAP antar keluarga. Bahwasanna sebuah TUJUAN / PIKIRAN YANG BAIK terkadang jusru menumbulkan akibat yang kurang berkenan, banyak terjadi di masyarakat, sehingga perlu kiranya kewaspadaan dalam bersikap. Perlu pula memperhitungkan tentang KAPAN WAKTU TERBAIK untuk berbuat sehingga terjadi TEPAT GUNA dan TEPAT SASARAN. Namun sifat PEDULI membuat seseorang SIAP – DIRI untuk berbuat bila dibutuhkan (diminta).
3.      SIKAP SALING MEMBIARKAN dan MEMAKLUMI
Setiap keluarga memiliki CARA, KONSEP, VISI, MISI tertentu guna meraih apa yang diidamkan. Tentu saja ada kesamaan dan perbedaan dengan apa yang dimiliki keluarga yang lain, sesuai dengan sifat kebutuhannya. Sikap membiarkan ini bukan berarti TIDAK MEMPERDULIKAN karena di dalam “diam” ini terkandung sikap MENGAMATI sihingga pada saat diperlukan, ada kesiapan untuk berbuat. Barangkali sifat KONSEP, TUJUAN dan SIKAP keluarga ang satu tak sama bahkan berlawanan dengan keluarga yang lain, namun parlu ada sifat / sikap memaklumi, agar terjadi KETENANGAN antar keluarga. Barangkali KEBENARAN / KEBAIKAN dari keluarga yang satu merupakan KESALAHAN / KEBURUKAN bagi keluarga yang lain; namun kadangkala teguran / peringatan justuru menggoyan dan manjatuhkan HARGA DIRI mereka sehingga menimbulkan rasa tersinggung.
4.      SIKAP SALING MEMAAFKAN
Dikarenakan berlangsungnya INTERAKSI (antar hubungan) yang lama terjadi, seringkali hadir “gesekan-gesekan” secara pribadi ataupun kelompok, karena adanya berbagai kepentingan. Dalam skala kecil ataupun besar (menimbulkan konflik) antara kelompok keluarga seringklai terjadi perbedaan sifat, sehingga menimbulkan kegoncangan dalam jiwa masing-masing anggota masyarakat. Meminjam pepatah TAK ADA GADING YANG TAK RETAK; maka tak selalu ketenangan dapat dijaga. Namun kesadaran KOMUNITAS (senasib, sepenanggungan) harus cepat dibangkitkan, untuk segera diadakan pemakluman akan CACAT – SESAMA, dan AKUPUN memaafkan orang lain / keluarga lain.
5.      SIKAP MENYENANGKAN ORANG LAIN
Seseorang kan merasa senang apabila dia memperoleh sikap menyenangkan, dan merasa tidak senang bila di perlakukan yang tidak menyenangkan.
Dan orang akan BEREAKSI yang sama untuk menanggapi sikap “dari – luar” dirinya. Dari situlah mencul rasa cinta, sayang dan pendekatan.
Seseorang akan menyayangi seekor anjing atau kucing, bahkan ayam (bangkok / kate) yang lucu dan menghibur hati. Sebaliknya seseorang akan merasa takut, benci, muak bila ada seekor anjing ag galak, kucing pencuri ikan atau ayam yang menginggalkan kotorannya dimana-mana.

Kesadaran AKSI – REAKSI inilah yang melahirkan sikap :
-          Lebih dahulu mencintai (walaupun nantinya tak mesti dicintai)
-          Lebih dahulu menghormati (walaupun belum tentu akan dihormati)
-          Lebih dahulu memberi (walaupun belum pasti akan diberi)
Maka sikap “mendahului” berbuat, ini merupakan kriteria sikap yang LUHUR dari pada sifat INGIN DICINTAI, MENGHARAP PENGHORMATAN, ataupun mendambakan untuk DIBERI.



Sikap – sikap PRAKTIS yang menyenangkan antara lain :
Ø  TERSENYUM
Ibarat pepatah : “SUKSES ITU TERLETAK DI UJUNG SEULAS SENYUM”. Yang dimaksudkan disini adalah senyuman yang tulus, sambil berkata dalam hati : “aku adalah temanmu, saudaramu, sahabatmu”. Dan senyuman tulus memancarkan ekspresi jiwa tulus – ikhlas dan beriwa KASIH pada sesama.
Memang ada senyuman lain seperti :
o   SENYUM SINIS bersifat merendahkan, mengejek.
o   SENYUM KECUT / senyum EWA, dilakukan oleh orang yang berusaha menenangkan hati yang mengalami kesedihan / kekecewaan.
o   SENYUM YAKIN, seseorang yang memperoleh tugas / masalah tertentu, namun dia yakin mampu mengatasinya.
o   Ada pula SENYUM TEGUR yang mengisyaratkan suatu terguran atas kekeliruan seseorang, namun tak sampai hati untuk mengungkapkan kata-kata.
Ø  KESERIUSAN
Adakalanya seseorang mengadakan komunikasi / dialog dengan teman / kenalan. Di pihak lain si komunikan (si teman) menanggapi dalam berbaagai sikap dan ekspresi yang tak menyenangkan misalnya :
o   Acuh tak acuh
Artinya si teman dialog menanggapi dengan sampil lalu sehingga ada kesan meremehkan. Padahal si teman sedang mempunai masalah yang barangkali lebih menyita perhatian.
o   Memalingkan muka ke arah lain
Sikap ini menunjukkan bahwa perhatian si teman tak sepenuhnya tertuju pada materi percakapannya.
o   Selalu memotong kalimat
Jenis – jenis interupsi ini seringkali membuat ungkapan seseorang menjadi terpotong. Ada baiknya interupsi di sampaikan dengan permintaan maaf sebelumnya.
o   Berbicara sambil menggoyangkan kaki atau anggoata badan seolah-olah mengikuti irama musik.
o   Berbicara sambil memperhatikan bagian tubuh tertentu seperti ; bagian tubuh yang menarik, bagian yang cacat dan lain-lain ; sehingga teman bicara merasa risih.
o   Sering membicarakan keburukan orang lain; karena yang diajak bicara merasa bahwa SUATU SAAT KELAK dia pun akan berbalik dibicarakan olehnya.
o   Sering meludah di dekat orang yang diajak berbicara, menimbulkan kesan si pembicara merasa JIJIK atau TIDAK SUKA dengannya.
o   Naik sepeda motor dengan knalpot dikeraskan, sering di blayer / digas dll, yang mengganggu orang lain.
o   Sering MENYURUH / MEMERINTAH /  MENGATUR orang lain seolah-olah seorang atasan member instruksi bawahannya. Ada baiknya ada kata-kata MINTA TOLONG; dan ucapkan TERIMA – KASIH setelah itu.
o   Masih banyak sikap / kata-kata yang TIDAK ETIS yang sering dilakukan oleh orangorang yang BELUM MENGERTI tentang etika dan norma secara umum yang dapat menimbulkan rasa tidak tenang dan tidak senang.
Adapun yang dimaksudkan dengan KESERIUSAN tersebut di atas adalah cara menanggapi ungkpan orang lain SESUAI DENGAN PORSI, TUJUAN dan MISInya, berdasarkan kewaspadaan akan RUANG (dimana dia berada) dan WAKTU (kapan waktu bersikap). Hal ini berkenaan dengan situasi jiwa orang banyak pada saat itu. Apabila keseriusan ini diterapkan pada situasi santai, riang dan ringan keseriusan ini justru tak tepat tempatnya.
6.      PENYESUAIAN
Ada peptah mengatakan : “DI KANDANG KAMBING MENGEMBIK”. Kesadaran bahwa seseorang tak dapat hidup sendiri, menciptakan naluri INGIN DIAKUI dan INGIN DITERIMA oleh kelompok masyarakt. Dan agar diterima oleh kelompok, seseorang harus mengadakan ADAPTASI (penyesuaian diri pada NORMA dan NILAI yang ada pada kelompok). Perbedaan sikap merupakan indikasi halus bahwa “dia bukan teman kita”, dan mulailah muncul penilaian kelompok terhadap diri dan pribadinya. Hal ini akan memperngaruhi penerimaan dan pengakuan kelompok terhadap dirinya. Namun, adaptasi ini tidak perlu mengubah jati diri. Prinsip tetap perlu ditegakkan, sehingga pribadi tak terombang ambing oleh lingkungan.
Kodrat ikan laut yang TAK PERNAH terasa asin, walaupun beradi di air laut yang asin. Namun ikan yang tak asin itu tetap mampu bertahan dan berkembang di air yang asin.
Mengingat peribadi anggota masyarakat yang beraneka ragam,maka perlu di adakan pendaya-gunaan atas keanekaan tersebut, sehingga tercipta harmonisasi. Ibarat jarai tangan yang berjumlah lima; yang masing-masing tak mungkin disamakan, namun dapat dipersatukan untuk tujuan tertentu (memegang, menunjuk, memuji, dll).
7.      KEBERSAMAAN
Kebersamaan dapat diartikan sebagai KEGIATAN BERSAMA PENGALAMAN BERSAMA, KENIKMATAN BERSAMA, dll. Akan tetapi sifat kebersamaan yang SEJATI adalah kebersamaan yang dilakukan secara IKHLAS menurut kemampuan dan situasi yang memungkinkan.
Kegiaan kebersamaan di masyarakat dapat dilihat di masyarakt sebagai :
-          Kerja bakti bersama
-          Kegiatan social bersama : meninjau orang sakit, kunjungan, pengajian, kelompok doa, dll.
-          Piknik / pariwisata, dharmawisata, dll dengan berbagai tujuan.
Adapun kegiatan-kegiatan ini biasanya diawali dengan perundingan / rapat guna persiapan pelaksanaannya. Kegiatan ini dapat digunakan untuk memupuk keakraban antar keluarga / anggota keluarga.
8.      TAK MENGHAKIMI
Di dalam pelaksanaan kebersamaan di masyarakat seringkali terjadi ke TIDAK IKUT SERTAAN anggota masyarakat. Hal ini menyangkut pada persoalan / masalah tertentu yang sedang dialami oleh anggota masyarakat. Ada berbagai penilaian yang terkadang muncul untuk mendiskriditkan sikap tersebut, antara lain :
·         Orang tersebut TAK SETIA KAWAN
Mungkin dalam berbagai event kebersamaan orang ini tak hadir dalam kegiatan-kegiatan tersebut, sehingga muncullah secara periodic PERUBAHAN SIKAP kelompok terhadap dirinya.
Masyarakt madani tak ingin repot-repot untuk mengusut tentang seluk-beluk kesulitan anggota masyarakat satu-persatu, namun secara dengan sendirinya ketidak-ikutsertaan ini menjadi sebuah cap untuk menganggap orang itu “buruk” nilainya.
Penghakiman ini berlangsung terus selama si anggota kelompok tak “mengubah sikap” dan cara berfikirnya. Adapun si anggota yang “buruk” mungkin memiliki KONSEP-KONSEP tertentu yang mendasari sikapnya seperti :
o   TAK INGIN TERGANGGU KEDAULATANNYA
Ada keluarga yang tak aman berkunjung pada keluarga lain / tetangga dengan kiat ; “AKU TAK PERLU BERBAIK DENGAN TETANGGA; YANG PENTING KELUARGAKU BAHAGIA!”.
Barangkali keluarga yang demikian ini melandasi kehidupannya dengan kondisi SUKSES DALAM USAHA; KAYA dalam bidang harta-benda atau Stratifikasi sosialnya tinggi (berpangkat / derajat tertentu). Atau mungkin pula merasa bahwa hubungannya dengan kelompok lain hanya AKAN MEREPOTKAN saja.
o   Dalam acara-acara yang berisi pendidikan masyarakat sering kali untuk menularkan suatu pengetahuan, pengertian, motivasi, dll. Serinkali orang merasa disibukkan oleh : pekerjaan, mengasuh anak.
Pada acara pertama, tak hadir karena ada acara lain yang lebih mendesak. Pada acara kedua, anaknya sakit, pada acara ketiga pergi ke luar kota, dll, dll, dll. Dan pada acara ke seratus sekian, cucunya lahir atau besan punya kerja, dll, dll, dll. Lalu kapankah orang ini sempat bersilahturahmi, kapn sempat bersosialisasi dan kapan dapat menimba pangetahuan?
Namun sikap “mau mengurusi diri sendiri” ini belu tentu keliru. Sikap ini banyak berlaku pada masyarakat kota-kota besar yang bersifat masyarakat PATEMBAYAN (gesselschat), yang dala kehidupan sehari-hari disibukkan oleh urusan bisnis dan pekerjaan yang amat menyita waktu dan perhatian.
Hal ini amat berbeda dengan masyarakat pedesaan atau nelayan (pesisir) yan bersifat paguyuban (gemeinscaft) yang memiliki banyak waktu luang untuk saling berkunjung, sehingga sifat persaudaraan antar warga lebih mudah diciptakan.
Dalam sikap KEBERSAMAAN, pada masyarakat desa (paguyuban) lebih Nampak nyata, seperti sika saling menolong, saling kunjung, pertemuan-pertemuan familier, dll. Sedangkan pada masyarakat patembayan (perkotaan) kepedulian diwujudkan melalui suatu lebaga. Adanya koperasi-koperasi, yayasan pension, lembaga swadaya masyarakat, kelompok kematian, dll. Merupakan kegiatan social yang dari luar tak begitu tampak nyata, tetapi secara tersamar inilah bukti keterlibatan masyarakat kota.
Dua fenomena yang “berlawanan” bentuk ini sebenarnya fungsinya sama yaitu akifitas social yang berbenuk kepedulian bagi sesama. Namun masyarakat patembayan memandang system paguyuban adalah tidak tepat laogi, ketinggalan jaman dan “merepotkan”.
Perbedaan norma terdapat pada etika-etika berjalan, berbicara (komunikasi dan dialog), makan dll yang berbeda tempat dan waktu, berbeda pola pikir dan bentuknya. Lalu lintas di Negara Barat bergerak disebelah kanan (di jalan), di Indonesia di sebelah kiri. Masyarakt jawa menganggap tangan adalah tangan “manis” (baik / sopan), diluar jawa belum pasti demikian; orang barat menganggap tanggan kiri dan kanan sama nilainya. Memang orang dengan mudah menyimpulkan bahwa yang benar adalah yang diakui oleh umum (orang banyak). Bagaimanakah bagi orang yang ada di tengah-tengah keduanya?
Orang daerah khatulistiwa dapat menentukan mana timur, mana barat. Bagaimana dengan orang yang berada di kutub utara atau kutub selatan? Inilah intisari pembelajaran ADAPTASI, agar tercapa keharmonisan antar manusia atau antar kelompok manusia, yaitu salaing menenggang KEbEnArAN MASING-MASING dan saling MENERIMA “KESALAHAN” sesama.

9.      MENGEMBANGKAN KEPEKAAN
Kepekaan merupakan kemampuan menangkap, menanggapi, menganalisa dengan cepat, sehingga timbul kecermatan yang menghasilkan kesimpulan cepat serta pengambilan keputusan setepatnya. Orang yang kurang peka akan Nampak sebagai kurang cerdas berfikir, ayal bertindak, kebingungan dan sulit mengambil keputusan.
·         HAL-HAL YANG BERPENGARUH PADA KEPEKAAN
o   Tingkat kecerdasan, yaitu ketinggian KECERDASAN FIKIR (IQ); KECERDASAN / ANALISA – SINTESA ini akan meningkat sehubungan dengan banyak / seringnya seseorang menerima problem, semenjak kanak-kanak. Bahkan dipengaruhi oleh gizi makanan saat masih ada dalam kandungan.
o   Tingkat perasaan, yaitu ketinggian aktifitas EMOSIONAL (EQ), yaitu aktifitas RASA / PERASAAN yang berpola pada NILAI KEINDAHAN, CEKAMAN PERASAAN; yang kelak melahirkan kekuatan pengungkapan EMOSI dala bentuk SENI.
o   Tingkat TRANSEDENTAL, yaitu ketajaman SPIRITUAL (SQ) yang mangacu pada getaran lembut dari dalam jiwa yang berbentuk INTUISI, FEELING INDERA KE 6 dan daya-daya SUPRA NATURAL.
·         KEPEKAAN jiwa seseorang (baik IQ = Intelejensi Quotient; EQ = Emotional Quotient maupun SQ = Spiritual Quotient) amat menunjang aktivitas manusia, sehingga memudahkan sistem aktifitas kerja, tehnis berkarya maupun kegiatan INTERAKSI antar manusia ataupun kelompok.
Seringkali masalah-masalah yang pelik terpecahkan menggunakan IQ, EQ, maupun SQ (sistem TEKHNOLOGI, sistem SENI-BUDAYA, maupun sistem MAGi-RELIGI).

II.                  PUSAT PERHATIAN
Pusat perhatian adalah pengarahan perhatian seseorang pada suatu obyek (benda, keadaan, aturan-aturan, dll) secara lebih besar dari pada perhatian pada hal lainnya.
Adapun sesuatu hal yang merupakan pusat perhatian yang konkret dapat dilihat / didengar panca indra; seperti keindahan benda-benda teknik, benda-benda seni budaya, alam semesta atau fenomena alam yang aneh-aneh, dll.
Sedangkan pusat perhatian yang ABSTRAK, tak Nampak, tak terdengar, namun dapat ditangkap/dirasakan keberadaannya, seperti : NORMA (Ukuran tentang benar dan salah) serta NILAI (ukuran tentang yang baik dan yang buruk).
Seorang individu memiliki tata NORMA dan NILAI masing-masing yang merupakan PRINSIP PRIBADI. Akan tetapi pada adat terjadi interaksi sosial dalam waktu lama seringkali terjadi PENGORBANAN PRINSIP PRIBADI. Hasilnya dalam penentuan untuk berkeluarga; suami / isteri seringkali harus “menanggalkan” PRINSIP PRIBADI demi keharmonisan keluarga (termasuk hobi-hobi, kebiasaan, dll).
Demikian pula halnya dengan hubungan antar keluarga atau kelompok; serinkali harus terjadi PENANGGALAN PRINSIP KELOMPOK demi tercapai keharmonisan kelompok yang lebih besar. Lihatlah para pahlawan yang gugur di medan laga. Demikian pula seringkali kepentingan keluarga dikorbankan untuk kepentingan yang lebih luhur sifatnya (PRINSIP HIDUP YANG LEBIH TINGGI).
Sebagai contoh :
·         Di Indonesia, PANCASILA diletakkan sebagai LANDASAN HIDUP bangsa. Pancasila merupakan pusat perhatian jiwa bangsa.
·         Tuhan merupakan PUSAT – PERHATIAN seluruh umat beriman beragama apapun; walaupun menggunakan berbagai sebutan
·         Dasa Darma adalah pusat perhatian jiwa PRAMUKA.
Begitu pula dalam kelompok masyarakat tertentu memiliki PUSAT PERHATIAN masing-masing sesuai yang diyakini kebenaran, kebaikan validitasnya secara NORMA, NILAI, FUNGSI / KEGUNAANNYA.
Keberhasialan, ketenangan, keharmonisan, dll dari suatu kelompok tergantung pada berapa kuatnya fokus / konsentrasi manusia pada pusat perhatiannya.
Pada tahun 2010an di Blora diadakan pendidikan OUT BOND dan IN BOND. Salah satu materi pendidikannya adalah berjalan di atas bara / api menyala, yang di ikuti 105 orang (diadakan di WIRESKAT, desa Sendangharjo). Dari 105 orang, ternyata ada 3 orang yang mengalami kasus kaki terluka dan melepuh terkena bara api. Sedangkan yang 102 orang selamat, tak kurang satu apapun. Mengapa demikian?
Ternyata pada saat berjalan di atas bara / api, 3 orang yang “gagal” melihat kebawah, melihat kea rah api yng mengeliat-geliat. Maka alam bawah sadarnya langsung mengungkapkan ingatan bahwa : api itu panas, api itu membakar, dll sehingga dengan seketika kaki mereka tersengat api tersebut.
Adapun yang 102 orang, pada saat menginjak di atas api perhatiannya dipusatkan pada “yel-yel” pembangkit semangat dan pandangan matanya dipusatkan pada komandan regu yang ada di depan sana (yang memberi komando-komando pengikat perhatian). Dan akibatnya ke 102 orang selamat, tak kurang suatu apa. Mereka merasakan hanya bagai menginjak ke tanah, ada yang hanya merasa hangat saja.
Dalam ceritera wayang (MAHA BHARATA) saat para ksatria PANDAWA berguru memanah pada pandita DRONA, yang berhasil hanya ARJUNA (penengah Pandawa) karena saat memanah arca burung, yang ada dalam perhatiannya hanyalah kepala arca burung tersebut.
Kaum Nasrani mengenal ceritera / riwayat petrus yang mampu berjalan di atas air danau Galilea, karena melihat Yesus ada / berdiri di tengah danau. Namun tatkala perus ada di tengah-tengah dia sadar bahwa dia ada di antara air bergelombang. Dan seketika itu pula Petrus tenggelam di air; namun Yesus cepat menolong Petrus.
Beberapa contoh / gambaran ini member indikasi bahwa KETEGUHAN “PANDANGAN” pada pusat perhatian merupakan kunci utama Kesuksesan.
Alangkah indahnya bila seluruh bangsa Indonesia memusatkan perhatian pada laku kehidupan dengan jiwa PANCASILA. Dan alangkah indahnya bila kehidupan pribadi manusia melakukan konsentrasi yang berpusat perhatian pada Tuhan Yang Maha Suci.
Dan alangkah mulianya apabila kelompok-kelompok masyarakat memusatkan perhatian pada dasar kehidupan bersama dalam HARMONI yang leagukan kedamaian dan ketentraman umat manusia, bukan untuk kepentingan pribadi individu atau kelompoknya sendiri.

III.                SUGESTI
Secara harafiah sugesti berarti SARAN untuk melakukan sesuatu. Padahal seharusnya melakukan suatu hal berdasarkan pengertian yang dimiliki, yang berasal dari pengetahuan yang ditemui dalam kehidupan.
Agak berbeda halnya dengan SARAN yang berkaitan dengan sugesti; karena DAYA SUGESTI berjalan secara demikian saja (automatisme), bahakan tanpa reserve pengamatan indera atau rasionalisasai lebih dahulu. Bahkan untuk memperoleh daya sugesti secara maksimal seseorang harus “membungkus” aktifitas CIPTA – RASA – KARSAnya, sehingga dengan demikian ketiga unsure jiwa ini menjadi NON-AKTIF. Sedangkan yang aktif tinggal NALURI/INSTING dan PERCAYA yang bersifat ADI – KODRATI.


BEBERAPA HAL YANG BERPENGARUH PADA JALANNYA SUGESTI
1.      PEMBERI SUGESTI
Pemberi sugesti adalah orang yang berjiwa KOKOH, TENANG, TAK MUDAH TERGUNCANG jiwanya, sehingga secara dengan sendirinya memancar DAYA GAIB (yang dimilik semua manusia !) yang “masuk” pada orang yang disugesti. Adapun penggabungan kedua daya gaib ini (dari pensugesti dan yang diberi sugesti) membuat aktifitas daya jiwa (kracht, chi, ki dan sebutan yang lain) membentuk “kekuatan bawah sadar” menuju pada sasaran sebagaimana yang di SARANkan.
Adapun daya gaib dari pensugesti dapat berwujud kebijaksanaan, kewibawaan, rasa kasih, daya lindung, dll sesuai ARAH SUGESTInya.
2.   ORANG YANG DISUGESTI
Seseorang yang disugesti memiliki kemampuan pengubahan diri dan pribadi seperti yang dimaksudkan dalam isi suesti, yaitu setelah DAYA GAIBnya menyatu dengan si pensugesti.
Beberapa sifat dan sikap batin yang berpengaruh pada orang yang disugesti antara lain :
o   PERCAYA bahwa isi sugesti akan berlaku seperti DOA kepada Tuhan (berdasarkan teori kesadaran persatuan antara Tuhan dengan si pensugesti dan yang di sugesti).
o   TAK ADA PENOLAKAN secara rasional maupun emosional pada isi sugesti maupun pensugesti.
KEGAGALAN SUGESTI Nampak dari tidak tercapainya isi sugesti seperti yang diharapkan.
Adapun kegagalan sugesti dipengaruhi oleh berbagai hal, misalnya :
o   Ada penolakan sugesti secara rasional dan emosional (karena terasa tak masuk akal; karena ada rasa tak senang pada pensugesti, dll).
o   Orang yang disugesti telah memliki daya sugesti lebih dulu, sehingga secara automatis alam bawah sadarnya me-“mentah”kan dan memuntahkan kembali saran yang masuk.
o   Saran yang masuk teras SEPERTI BIASA dalam keseharin; tanpa tekanan / stressing, sehingga ada kesan bahwa saran ini hanya hal YANG BIASA SAJA.
o   Si pensugesti berkesan TIDAK SERIUS, tak berwibawa, hanya berkesan “guyonan” (senda gurau).
o   Orang yang disugesti TIDAK SUGESTEBLE, memandang sesuatu dengan tak serius, sehingga sugesti hanya “numpang – lewat” dalam penglihatan atau pendengaran beberapa saat, untuk segera lepas lagi.

3.      BENTUK SUGESTI
Sebenarnya sugesti tak lain adalah bentuk dari SARAN PERINTAH, ANJURAN, LARANGAN yang telah merasuk dalam alam bawah sadar seseorang, sehingga telah menjadi saran, perintah, anjuran, larangan dari DIRI SENDIRI disertai konsekuensi logis ataupun irasional untuk terwujudnya isi sugesti tersebut.
Terkadang demi penguat isi sugesti, si pensugesti menyertai dengan sarana sarana atau proses pengiring seperti BAHASA, BENDA, ISYARAT, GERAKAN “tak berarti” dll. Sebagai PENGUAT SARAN.
Berbagai bentuk sugesti antara lain :
1).        Seorang dokter member advis pada pasien. Sang dokter HARUS YAKIN atas advis yang diberikan sehingga pasien PERCAYA bahwa obat dari dokter A ini mujarab baginya. Terkadang dengan obat yang sa, namun dokter yang lian (bukan dokter A) yang memberikan, terasa berbeda hasil penyembuhannya kecuali bila orang yang disugesti PPERCAYA bahwa dokter A, B, C, atau Z toh pengetahuannya sama saja.
2).        Dalam dunia supranatural. Seorang paranormal mampu menyembuhkan suatu penyakit hanya dengan penggunaan segelas air putih saja. Padahal secara nalar (rasio) air putih tidak memiliki zat penyembuh penyakit.
Semakin banyak paranormal (atau dokter) berpraktek; disamping melipatgandakan kemampuannya dalam menangani pasien / klien, akan menambah rasa PERCAYA pada diri pasien, dan semakin kuat DAYA SUGESTI yang memancar dari dokter/paranormal itu. Bagaikan talenta yang makin berkembang demikianlah perkembangan DAYA SUGESTI itu semakin kuat pengaruhnya.
3).        SUATU TEMPAT dianggap keramat menimbulkan sugesti pada banyak orang. Hal ini disebabkan adanya KEPERCAYAAN yang bertambah-tambah dari sekian ratus orang selama sekian puuh / ratus tahun. Maka tempat ini menimblkan ARUS SUGESTI (karena berkumpulnya kepercayaan sekumpulan manusia).
Hal ini berlaku pula bagi BENDA-BENDA KERAMAT, UPACARA-UPACARA SAKRAL/SUCI, dll. Timbulnya ke-keramatan dan kesucian tempat tertentu atau benda atau upacara, adalah karena DIKERAMATKAN, DISUCIKAN oleh manusia. Dengan kata lain DIANGGAP dan DIPERCAYA sebagai mempunyai DAYA GAIB.
Dalam teori LAHIRNYA SENI di dunia bersangkutan pula dengan sugesti ini.
Ada 3 teori lahirnya seni budaya di dunia, yaitu :
§  THE THEORY OF PLAY (seni lahir dari permainan)
§  THE THEORY OF UTILITY (kelahiran seni dari kegunaan tertentu), dan
§  THE THEORY OF MAGIE AND RELIGI (seni lahir dari kegiatan yang berhubungan dengan kekuatan gaib dan jiwa keagamaan).
Tak pelak lagi aktifitas apapun di dunia termasuk seni budaya dan agama tak pernah lepas dari SUGESTI. Seseorang boleh hafal seribu doa, mantram dan ilmu-ilmu gaib atau ILMIAHPUN, bila tak ada PERCAYA semuanya menjadi PERCUMA dan BOHONG BELAKA.
4).        HAL YANG TAK NAMPAK
Manusia memiliki suatu kepercayaan bahwa di sekeliling tempat beradaya terdapat faktor X yang tak kelihatan tetapi terasakan keberadaannya.
§  Angin adalah udara yang bergerak. Seseorang dapa menangkap keberadaan angain melalui penglihatan adanya daun-daun, pepohonan, awan ang bergerak atau berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. Angin itu sendiri TAK TERLIHAT, tetapi kulit manusia dapat merasakan angin malam yang dingain atau sejuknya angin gunung di malam hari.
§  Arus listrik mampu memvuat ball-lamp menyala, sehingga orang mengetahui bila dalam seutas kabel listrik tersembunyi arus yang dapat menghidupkan lampu neon dan mampu mematikan manusia.
Ada fenomena yang terjadi di dunia ini, sehubungan dengan MAKHLUK YANG TAK TAMPAK pada penglihatan mata. Keterbatasan pengetahuan ILMIAH mengklaim bahwa hal itu TIDAK-ADA, dan dengan ringan hati menyebutnya sebagai TAHAYUL. Adapun malaikat, Jin, Setan, itu hanyalah bualan cerita penghantar tidur atau buatan otak manusia. Nah !! padahal makhluk – makhluk itu adalah ciptaan TUHAN !
Lalu apakah berarti TUHAN juga tidak ada? Bagaimana dengan fenomena orang kerasukan setan yang sudah ada sejak zaman para nabi? Bagaimana pula dengan peristiwa kesurupan masal di akhir-akhir ini? Mampukah pengetahuan ilmiah menjawabnya? Hal iniadalah disebabkan ruang lingkup kajian ilmiah dibatasi pada hal yang KASAT MATA dan rasional belaka.
Seperti halnya dalam dunia THIEN TAO (jalan ketuhanan) yang menyatakan bahwa pada saat diadakan SAN TIEN HWA HWE (siding dharma 3 hari) para arwah leluhur peserta ikut hadir, berlutut di bagain belakang peserta. Para Roh suci pun hadir dalam acara sacral itu. Orang awam akan mengatakan “Ah.. itu bohong/ mengada-ada !” tetapi beberapa orang yang dianugerahi Tuhan kondisi TERANG MATA BATIN tahu persis tentang keberadaan beliau-beliau.
Inilah bentuk SUGESTI ADI KODRATI supranatural. Sama halnya denga peristiwa KOMUNI SUCI / EKARISTI pada kalangan Khatolik, upacara SIDHI pada kalangan Kristen Protestan, prefasi orang kudus saat upacara misa kudus yang memanggil para malaikat dan para kudus. Apakah ini hanya bentuk sandiwara para pendeta / pastor?
Disini tenyatalah bagi manusia tentang adanya hal yang tak terlihat / terdengar oleh 5 indera manusia ternyata dapat ditangkap oleh indera ke enam.
5).        KEBIASAAN – KEBIASAAN
Semenjak kanakkanak manusia telah disituasikan oleh aktivitas PEMBIASAAN agar terjadi KEMAPANAN. Dengan demikian kemapanan yang lama dilakukan merupakan sebuah KEBENARAN yang nyaris tak terbantah keadaannya. Sedangkan hal-hal yang TIDAK SAMA dengan kemapanan itu termasuk dalam KESALHAN. Secara hakekat, “kesalahan” tersebut, belumlah pasti suatu KESEJATIAN yang tad dapat dibubah, sebagai contoh :
a.      Orang jawa terbiasakan makan nasi sejak kecil, maka bila belum akan nasi, terasa seakan belum makan, dan rasanya ada sesuatu yang “salah” bila orang tidak makan nasi.
Hal ini berbeda dengan orang barat yang makanan pokoknya adalah roti atau kentang, atau orang irian yang menggunakan sagu sebagai makanan pokoknya.
Dengan demikian bila seorang jawa diajak makan oleh temnnya, dalam imaji/ilusinya, yang akan dimakan nanti adalah nasi dan lauk pauk yang ini, yang itu, yang begini, yang begitu. Dan bila dalam kenyataannya nanti tidak demikian maka dianggap ada “kesalahan” yang berlaku.
b.      Para orang tua menganggp musik-musik pop, rock, underground adalah mengandung “kesalahan” dalam peneriamaan, karena belia-beliau pada waktu itu akrab dengan karawitan, gending jawa , wayang kulit, dll. Budaya jawa termasuk falsafah KEJAWEN amat terbiasa dalam kehidupan mereka sehingga kedapatan “orang-asing” terasa mengganggu kedaulatan mereka. Hanya sifat TOLERANSI yang tinggi membuat orang-jawa menerima hal-hal yang ASING.
Budaya jawa melahirkan sugesti umum untuk dapat menerima budaya asing, tekhnologi asing, agama asing masuk ke jiwa orang jawa.
Pada saat agama hindhu masuk ke jawa, diterima dengan tangan terbuka, terjadi pembaruan antara orang jawa dan india. Sebagaimana fakta pada jaman kerajaan lama; Kutai misalnya; Raja pertamanya: Kudungga, merupakan nama asli Indonesia (Kalimantan) tetapi anaknya: Mulawarman dan Aswawarman (Mulawarmadewa dan Aswawarmadewa) adalah nama-nama bernuansa Hindu. Begitu pula Purnawarman raja kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat.
Mantram “HONG WILAHENG SEKARANG BAWONO…..”, HONG AWIGNAM ASTU PURNOMO SIDHAM (AUM AWIFNAM MASTU NAMAS SIDHAM) jelas merupakan perpaduan budaya jawa dan budaya Hindu.
Saat hadirnya agama Budha, orang jawa yang sudah “merasuk” Hinduisme, menerimanya dan berbaur mehirkan paham SYIWA-BUDHA. Dalam masyarakat Jawa mengenal para Budha seperti : Budha Amogapasha; Budha Mahisasuramardhani; Budha Awalokiteswara, dll.
Pada decade masukna agama Islam, Islam diterima dengan tangan terbuka dan berbaur pula dengan budaya jawa. Seperti misalnya doa : “Allahuma daikatul-maut, badanku gumulung cahyaku jumeneng, Ingsung retune cahya, urube murub ing sakjrone ati terus ing tingal (doa tahan lapar). Jelas terlihat bahwa doa tersebut adalah doa DOA JAWA yang memasukkan unsure bahasa Arab sebagai rasa “kesatutujuan” pada agama islam.
Sistem memuliakan para leluhur dalam upacara tertentu, Nampak perkawinan adat Tiong Hwa, Jawa-Hindu (adanya sesaji) dan Isalam (doa-doa Islam).
4)         SARANA PROSES SUGESTI
Semua hal yang tertulis di atas merupakan SARANA terjadinya sugesti. Adapun inti sari sarana terjadinya proses sugesti di awali adanya RASA KEHARUSAN MENG-IYA-KAN, RASA DIPERINTAH dan KEWAJIBAN MELAKUKAN sesuatu yang disugestikan; sehingga TAK ADA KUASA untuk MENOLAK.
Agar tak terjadi penolakan pada orang yang disugesti, perlu ada “penyanderaan” perhatian yang “semerawut” / amvuradul, dan di arahkan secara mengkhusus pada satu TUJUAN sebagai pusat perhatian. Adapaun sistem “penyanderaan” ini dapat dilakukan dengan berbagai teknis, antara lain :
1.      PERINTAH
Pada kelompok manusia yang telah disituasikan sebagai satu “ORGANISASI”, walaupun secara NON-AKLAMASI, selalu ada satu atau dua orang yang memiliki “wibawa” yang terasa lebih menarik, lebih menonjol, lebih karismatis dari pada lainnya. Dengan sendirinya orang yang demikian akan “lebih di dengar” daripada lainnya. Dalam menggerakkan aktifitas kelompok, si orang “terpilih” ini dapat dimanfaatkan sebaga penggerak awal melalui PERINTAH-PERINTAH untuk dilaksanakan.
2.      PENALARAN
Panalaran adalah usaha”menggali”, “mencermati”, hal-hal yang dianggap sulit dipecahkan. Penyimpulan akhir yang merupakan hasil analisa-sintesa adalah suatu bentuk kebearan walaupun bersifat sementara, namun sebagai penggerak awal hal ini perlu dilakukan sebagai contoh ; out bond yang tertulis terdahulu, pada even berjalan di atas api, sebelum aktivitas dilakukan pasti dan perlu diadakan panalaran lebih dahulu tentang MENGAPA KITA HARUS MELAKUKAN HAL ITU; beserta alasan Tujuannya. Hal inipun belum pasti sugesti itu diterima. Barulah tatkala diperlihatkan foto/ideo tentang kegiatan yangteah dilakukan oleh kelompok out bond yang lain, dan ternyata Nampak aman-aman saja, maka kelompok berani MENCOBA-COBA (dengan agak was-was tentunya).
3.      PERCONTOHAN
Adapun metode percontohan dapat merupakan sarana penggerak apabila tokoh yang menjadi contoh merupakan orang yang DICINTAI, DIKAGUMI, DIHORMATI oleh orang yang menerima sugesti.
Tokoh-tokoh dunia banyak dianut oleh orang umum (umat manusia) karena KETELADANANNYA, PENGORBANANNYA, dan SIFAT LUHUR ang dimilikinya. Sebagai contoh: para nabi, para suci, pahlawan-pahlawan dan pejuang bangsa.
Ada pun sugesti yg mempengaruhi jiwa dalam diri seseorang bersatu dengan idealisme masing-masing menyangkut tokoh idola teladannya.
Tokoh-tokoh fable(cerita binatang) seringkali menjadi tokoh idola anak-anak kecil, sehingga tetap  memiliki validitas untuk membentuk dan mengubah karakter anak menjadi lebih baik.
Tokoh-tokoh dalam ceritera silat dan petualangan mampu member sugesti pada pembaca dalam taraf masa pubertas ,karena pembaca membuat similarisasi(persaaan dirinya dengan tokoh tersebut.
Keuletan tokoh  Old Shaterhand dalam ceritera ciptaan Dr.Karl May. Tokoh (pemeran utama) dalam serial Rilogi silat Tiongkok karangan China yang :
-Kwee Ceng dan Oey Yong dalam ceritera SIA TIAUWENG HIONG (Kisah memanah burung rajawali) ;
-Yoko dan Siauw Liong Lie dalam SIN TIAUW HIAP LU (Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar) ; dan
-Thio Bu Kid an Tio Beng dalam I THIANTO LIONG atau TO LIONG TO (Kisah Membunuh Naga)
Ketiga pasangan mesra dan tantangan hidup ini mampu meberi sugesti para pembaca ; sehingga ada kesimpulan (tanpa sudan) bahwa pasangan hidup seperti itulah yang MESTINYA terjadi dalam keluarga.
4.      KOMUNIKATIF
Mengapa ceritera-ceritera tsb mampu menyedot perhatian pembaca? Hal ini disebabkan adanya sistem bahasa dan alur cerita yg KOMUNIKATIF , yg diolah oleh pengarang sedemi kian rupa sehingga seakan terasa bahwa peran utama dalam cerita tsb adalah si pembaca sendiri, seolah olah pembaca adalah PERAN UTAMA yang sedang mengalami ini dan mengalami itu. Pembaca tak sadar bahwa dirinya TERSUGESTI oleh pengaran yang sedang BERANDAI-ANDAI tentang tokoh dan lelakon hidupnya.
Dr. Karl May tak mungkin benar-benar bertualang ke seluruh duni, mengalami seluk-beluk dan detail kehidupan WINNETOU sang pemimpin suku Indian (Apache_ dan lain waktu sudah berada di daerah Timur Tengah (di dalam ceritera DISUDUT-SUDUT BALKAN).
Cin Yung tak mungkin hidup di tiga jaman (3 dinasti) yang lalu. Sedangkan ceritera tentang To Liong To itu diperkirakan di Indonesia sedang ada dalam jaman kerajaan Singasari (Kartanegara) dan awal-awal jaman kerajaan Majapahit di tahun 1275 atau 1300-an, dan Yo Koa tau Kwee Ceng (andaikata benar-benar ada) pasti terjadi di jaman kerajaan mataram Hindu; jaman raja Empu Sindok atau Darmawangsa Teguh sebelum kehadiran Ken Angrok Sang Amurwa Bhumi.
Maka alangkah besar pengaruh ceritera daam pembentukan watak manusia melalui sugesti tokoh-tokoh utama dengan seluh beluk kehidupannya.
Bagaimanakah degan isi ceritera di jaman sekarang; dengan adanya sinetron-sinetron modern di layar kaca sugesti apakah yang dapat dipetik? Apakah sudah ada andil para pengarang terkini, dalam membentuk karakter manusia unggulan?

IV.               SUGESTI PRIBADI
Secara tersamar sugesti merupakan aktivitas jiwa untuk “MENJADI DIRI”, mengubah diri, membentuk diri sebagaimana YANG TERCIPTA DALAM ALAM PIKIRAN DAN PERASAAN.
Sugesti yang diberikan bagi orang lain sebetulnya BUKAN SEKEDAR SARAN / PERINTAH seorang ke seorang atau ke sekelompok orang; melainkan MENANAMKAN dalam JIWA / ALAM BAWAH SADAR agar tercipta PERINTAH BAGI DIRI SENDIRI untuk “menjadi” / “terjadi” hal-hal yang terkandung dalam isi sugesti.
Sebagai contoh :
·         SESEORANG YANG INGIN SEMBUH DARI PENYAKIT
Ingin sembuh dari penyakit identik dengan kalimat TIDAK INGIN SAKIT ATAU TERBEBAS DARI KEADAAN SAKIT.
a.      SUGESTI MEDIS
Pasien HARUS PERCAYA bahwa OBAT yang di minum menyembuhkan karena “KATA ILMIAH” obat adalah penyembuh penyakit.
b.      SUGESTI DOKTER
Mungkin pasien ragu-ragu akan obat yang “asing” itu maka dokter HARUS MENANAMKAN KEYAKINAN tentang obat tersebut yang menyembuhkan, sehingga pasien PERCAYA AKAN “KEAJAIBAN” PENGETAHUAN DOKTER.
c.       SUGESTI IMAN
TUHAN manganugerahkan DAYA GAIB PENYEMBUHAN dengan perantaraan dokter dan obat.
Sugesti ketuhanan dan magi / mistis sering digunakan para penyembuh GAIB (pendeta, pastor, ustatz, paranormal, dukun, dll) yang mengacu dan “menebeng” HIKMAT / KAROMAH orang –orang terdahulu yang dekat dengan Tuhannya (para Nabi, Wali, Santo-Santa, Aulia, dll).
d.      SUGESTI PENDIDIKAN
Seorang guru dapat menanam SUGESTI PERCAYA DIRI terhadap muridnya dengan pernyataan keberhasilan dalam mengerjakan tugas-tugasnya.
Seorang guru seni rupa akan mengatakan “gambarmu bagus sekali !” kepada murid yang beru belajar melukis; padahal semua orang tahu gambar si murid memang jelek. Adapun tujuan pujian ini digunakan untuk menanam kapercayaan agar si murid PERCAYA BAHWA dia mmpu. Kritikan perubahan yang bijaksana akan berbunyi: “sayang sebelah sini kurang begini; kalau gambar orang yang ini hidungnya agak begini / begitu, alangkah sempurnanya gambarmu ini !”.
Dan dengan modal percaya diri inilah si murid melaih diri lebih gia setelah dia sadar bahwa dirinya “ternyata mampu”.
e.      SUGESTI SUPRANATURAL
Di masyarakat banyak kejadian irasional ang terjadi; dalam kesuksesan, penyembuhan; keselamatan, dll.
Dunia supranatural (diakui atau tidak) adalah dunia gaib bernuansa kedekatan pada Tuhan. Dan dikarenakan Tuhan adalah ROH yang tak Nampak, tak terdengar, hanya dapat dirasakan oleh rasa terhalus atau rasio supra (intuisi, feeling, dll). Maka aktifitas supranatural tak jauh-jauh dari area tersebut.
Tentulah aktifitas ini perlu kepercayaan 3 LIPAT yaitu PERCAYA PADA TUHAN, PERCAYA PADA PERANTARA TUHAN (manusia, benda, malaikat, simbol-simbol,dll) dan PERCAYA PADA DIRI – SENDIRI. Dengan demikian “logika dan emosi KASAR” harus dihentikan kegiatannya; antara lain menghilangkan RASA BERTANYA: Mengapa begitu; lho kok bisa; apa alasannya; dari mana anda tahu?” dll, dll. Yang ada hanyalah : “Ya” (SIAP! AMIN!)
Dalam pewayangan, dalam kisah DEWARUCI; sang Bhima / Bratasena ditipu oleh gurunya (Pandita Drova) untuk mencari air kehidupan (banyu suci perwita sari) di tengah samodra MIJANG KALBU. Tetapi karena kepatuhan dan kesetiaan pada guru; Bhima justru bertemu dengan Sang DEWA-RUCI; Sang Penuntun Sejati.
Adapun yang dimaksud dengan SUGESTI PRIBADI, sebenarnya adalah suatu SIMPUL KESATUAN CIPTA-RASA-KARSA yang terpadu SAMA KUAT, sehingga ketiga unsur jiwa tersebut “mati-suri” (non aktif). Padahal dalam kematian itu HIDUP tetap berlangsung! Lalu siapakah yang menjalankan roda kehidupan sementara (sesaat) itu?
Disinilah INNER – SIGHT / INNER – POWER manusia secara aktif menyatukan diri. Maka “SARAN”, KALIMAT, JERITAN JIWA non cipta-rasa-karsa beraksi dengan cepat dan akurat. Kini SUGESTI mulai menjalankan perannya dengan TANPA PENGHALANG.
Kegagalan terjadinya proses SUGESTI adalah karena keikut-serta an CIPTA – RASA – KARSA.
Dalam bahasa iman, SUGESTI menggerakkan ROH (daya gaib) manusia; sedangkan CIPTA – RASA – KARSA merupakan DAYA PENGGANGGU kedaulatan ROH Tuhan, sehingga imajinasi / angan-angan murni gagal menemukan sasarannya.
Mungkin orang tak beranalisa bahwa khayalan seniman seringkali terwujud idenya menjadi kenyataan di kelak kemudian hari tanpa kesadan, dan bahkan si seniman sendiri terkadang tak mengalami sendiri keadaan itu.
Adapun terjadinya “lamunan” yang menjadi kenyataan dapat dilihat dari karya yang dihasilkannya. Dalam ceritera wayang, senimannya di masa silam malamunkan tokoh-tokoh yang kontroersial yang irrasional, seperti manusia terbang: Gathotkaca, Sri Kresna, para dewa dan tokoh sakti lainnya atau Antareja yang mampu masuk kedalam bumi. Tentu si seniman tidak pernah berfikir bahwa kelak di kemudian hari akan benar-benar terjadi manusia terbang atau masuk ke dalam bumi, walau menggunakan alat bantu (pesawat, kapal sela, terowongan dalam tanah, dll).
Dalam teori sugesti, ya LAMUNAN – BEBAS inilah penyebab awal terjadinya kenyataan yang akan datang. Si seniman hanya CUKUP ENJOY menikmati hasil seninya sambil mentertawakan para penonton terheran-heran atas ide konyol tersebut. Bayangkan andaikata si seniman setelah melahirkan ide “gila” itu lalu berusaha mati-matian untuk melaksanakan kenyataan agar manusia benar-benar terbang di saat itu! Mungkin si seniiman dapat-benar-benar gila karena KEGAGALANnya. Memang dalam iman berbunyi : APA YANG BAGI MANUSIA TIDAK MUNGKIN, BAGI TUHAN TAK ADA YANG TAK MUNGKIN.
BEBERAPA BENTUK SUGESTI PRIBADI (contoh) :
*AKU PERCAYA BAHWA :
Ø  Aku tak hanya seperti ini!
Ø  Aku mampu memecahkan masalah sulit ini!
Ø  Tuhan tak mungkin membiarkan aku begini!
Ø  Tuhan membuat aku mampu!
Ø  Sejak sekarang aku tak kan kekurangan !
Ø  Dll, dll, dll, dengan syarat : JANGAN DI SANGKAL OTAK, JANGAN DILAWAN OLWH PERASAAN tetapi MATIKAN KEHENDAK, artinya JANGAN BERUSAHA AGAR SUGESTI INI TERJADI tetapi JANGAN MERAGUKAN terjadinya sugesti itu!
Kala-kala IKRAR adalah sugesti pribadi yang kokoh bagaikan jangkar kapal yang menentukan kemana perjalanan kapal itu berhenti.
Nah, kini betapa pentingnya sugesti untuk menentukan arah bentuk sasaran yang dituju, bagi manusia, bagi keluarga, bagi kelompok, masyarakat bahkan bagi dunia umumnya.
BENTUK – BENTUK NYATA ADANYA SUGESTI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA (khususnya pada masyarakat madani).
o   PAMALI  - PAMALI (TABU – INCEST)
Ada kelompok manusia yang membuat batasan-batasan, rambu-rambu kehidupan;  sebaiknya begini, sebaiknya jangan begitu; jangan kesana karena ada begini, jangan kesitu karea ada akibat begini.
Bentuk nyata tentang hal ini dapat ditemukan dalam agama apapun, hukum adat dan tradisi, tempat yang disakralkan, hari-hari keramat dan sebagainya yang disugestikan BILA TIDAK MELANGGAR AKAN BAIK-BAIK SAJA, BILA MELANGGAR AKAN MEMPEROLEH SANKSI TERTENTU.
o   DOA – DOA, MANTRAM, PUJIAN
Bagi orang YANG PERCAYA, doa, mantram, pujian menjadi sarana terlaksananya sugesti, seperti yang dikehendaki. Namun bagi yang tidak percaya berdikir semalamanpun hanya menyebabkan kantuk dan lapar.
o   Benda KERAMAT dan TEMPAT SUCI
Benda keramat / tempat suci adalah merupakan PROSES PENGIRING peristiwa  penting yang menimbulkan sugesti. Berbagai bentuk benda keramat seperti : Keris Pusaka, Cincin bertuah, Salib yang diberkati, Hosti-suci, Tasbih, Kitab Suci, dll yang semua merupakan simbol PROSES PENGIRING tentang hubungan manusia Terhadap Sang Junjungan.
Begitupula tempat yang dikeramatkan seperti : pertapaan, permandian kuno, makam raja-raja dan orang suci (atau petilasannya), gua-gua, Mekah Al Mukaromah, Medinah, Lourdes, Yerusalem, Benarez di India, dan banyak lagi lokasi-lokasi suci (lebih tepat : DISUCIKAN) yang merupakan “alat bantu” hubungan dekat antara Tuhan dan Manusia.
Matram merupakan kalimat suci yang mengandung daya magis yang disugestikan bagi manusia yang berkepentingan; namun bagi orang yang tidak percaya semua ini TAK ADA ARTINYA!
Namun setiap manusia memiliki kadar “KECOCOKAN” YANG TAK SAMA; sehingga matram yang bagi si A sangat berdaya – guna, bagi si B sama sekali tak ada gunanya.
Doa banyak dikembangkan oleh para pengamat agama/faham kerokhanian apapun di dunia. Namun, dari 10 orang dalam satu agamapun memiliki kepekaan yang berbeda atas doa-doanya. Semua tergantung dari PENGALAMAN PRIBADI yang MEMBENTUK SUGESTInya.
Si A yang beragama Islam misalnya; meyakini doa Basmallah sebagai “andalan”nya, sedangkan si B lebih yakin pada Al Fatihah, si C yakin pada Ayat Kursi.
Si D yang Katholikan “senang” dengan tanda salibnya, si E yakin akan doa PATER-NOSTER.
Sedang si F yang berfaham ketuhanan universal tak meyakini doa apapun; tetapi sepenuh iman hanya percaya pada Tuhan yang Maha Tinggi.
Inilah gambaran HITEROGENITAS umat manusia ciptaan Tuhan. Keseluruhannya memiliki kebenaran masing-masing; atau _ _ _ _ menganggap yang lain SALAH – SEMUA kecuali yang diyakininya. Dan inipun wujud dari produk adanya sugesti yang menggerakkan perikehidupan manusia.














KESIMPULAN – KESIMPULAN
1.      Kerukunan antar keluarga dapat dicapai dengan landasan : KASIH, KOMUNIKASI, MEMAKLUMI, PENGENDALIAN DIRI, SALING PEDULI, dan TAK MENGHAKIMI.
2.      KESUKSESAN ADA DIUJUNG SEUTAS SENYUM
3.      SIKAP MEMAKSAKAN KEHENDAK menyebabkan penolakan pada diri / pribadi seseorang.
4.      PENYESUAIAN DIRI, DAN KEPEKAAN adalah sarana diterimanya pribadi seseorang
5.      PUSAT PERHATIAN merupakan SASARAN UTAMA konsentrasi.
6.      SUGESTI merupakan alat penentu kehidupan.
7.      RASIONALISASI (LOGIKA) bukan ALAT UTAMA dalam menentukan kehidupan, tetapi dapat di manfaatkan sebagai ALAT PEMBANTU kesimpulan.
8.      PERCONTOHAN adalah “kalimat tanpa ucapan” yang menciptakan perubahan jiwa.
9.      SUGESTI PRIBADI mampu mencetak masa depan manusia sesuai dengan yang diangankan.
10.  Landasan SUGESTI PRIBADI adalah kata hati “AKU PERCAYA BAHWA _ _ _ _!”

**        ______________________________                        **

SUGESTI DAN DOA
KIRANYA PEMBACA YANG MERENUNGKAN ISI TULISAN INI DIANUGERAHI KEBAHAGIAAN HIDUP, DIAYOMI, DIBIMBING, TERBUKA JALAN REJEKI DAN KESUKSESANNYA, MEMANCAR PADA TEMAN-KAWAN-SANAK SAUDARA DAN KELOMPOK ANDA APAPUN BENTUKNYA. TUHAN MENYERTAI ! AMIIIIN !

Syaloom,
Penulis




Terima Kasih atas bantuan dari saudara-saudara :
1.      _____________________________________di ________________________
2.      _____________________________________di ________________________
3.      _____________________________________di ________________________
4.      _____________________________________di ________________________
5.      _____________________________________di ________________________
6.      _____________________________________di ________________________
7.      _____________________________________di ________________________
8.      Dll.

Yang telah menggandakan tulisan ini, Kasih Tuhan Menyertai.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar